Vaksin Astrazeneca Kantongi Izin Penggunaan Dari Mui Dan Bpom

WHO menganggap bahwa manfaat Vaksin AstraZeneca lebih besar jika dibandingkan risikonya. Setelah Denmark, negara lain, seperti Norwegia, Islandia, Bulgaria, Thailand, dan Kongo segera menyusul untuk menangguhkan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca. Otoritas kesehatan Norwegia melaporkan terdapat empat orang di bawah usia 50 tahun yang memiliki trombosit darah yang sangat rendah dan telah menerima vaksin AstraZeneca beberapa waktu lalu.

Hal itu dilakukan untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia. Bukan vaksin Covid-19 saja, jenis vaksin vektor adenovirus telah dikembangkan sejak lama dalam melawan pandemi atau penyakit. Vaksin mRNA-1273 dari perusahaan Moderna AS, pada prinsipnya sangat mirip dengan vaksin BioNTech/Pfizer. Setelah dilakukan vaksinasi, muncul laporan efek samping berupa reaksi alergis. Efek samping diduga dipicu partikel lipid nano yang menjadi transporter unsur aktifnya, yang diuraikan oleh tubuh.

Meski begitu, Medicines & Healthcare Products Regulatory Agency , telah menyarankan untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh vaksin Covid-19 AstraZeneca. Apabila keluhan berlanjut, disarankan kepada peserta vaksinasi untuk segera menghubungi petugas kesehatan atau ke fasilitaspelayanan kesehatan . Vaksin ini mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat bereplikasi/berkembang di dalam tubuh manusia, tetapi dapat menimbulkan respons kekebalan terhadap COVIO-19. “Kalau di penelitiannya dia proporsinya 20 persen, di Sulut 20 persen, artinya memang benar dan memang tidak berbahaya atau di luar dugaan atau melebihi ambang keamanan,” sebut Prof Hinky. Peneliti memodifikasi virus tak berbahaya dari simpanse untuk membawa materi virus SARS-CoV-2 dan memicu respons imun. Vaksin Astrazeneca tidak dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang sedang demam dengan suhu di atas 38°C, menderita COVID-19, atau menderita penyakit infeksi yang berat.

Pasalnya, sebelumnya WHO mengatakan tentang waktu optimal untuk dosis kedua vaksin AstraZeneca itu adalah pada 9 sampai dengan 12 pekan kemudian. Hal ini akan berpengaruh dengan rekomendasi dari Badan POM terkait penggunaannya. Jika Anda mengalami ketidaknyamanan setelah vaksinasi, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi efeknya. Vaksin ini bekerja dengan cara menstimulasi atau memicu tubuh untuk membentuk antibodi yang dapat melawan infeksi virus SARS-Cov-2. Menurut Greinacher, ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalaminya memiliki beberapa faktor lain yang membuat mereka rentan terhadap penggumpalan darah.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Badan POM Lucia Rizka Andalusia mengatakan efikasi vaksin dengan 2 dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar 2 bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,1%. Hasil ini sudah sesuai dengan persyaratan efikasi untuk penerimaan emergency use authorization yang ditetapkan oleh WHO yaitu minimal 50%. “Sebagian besar KIPI yang dilaporkan sifatnya ringan dan telah teratasi setelah dilakukan penanganan. Sampai saat ini tidak ada dari efek simpang ini yang berbahaya bagi keselamatan penerima vaksin,” terang Kalalo. “Pemantauan oleh Komda KIPI terutama diarahkan untuk menjawab pertanyaan kenapa angka kejadian KIPI ini cukup signifikan di Sulut, bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Jawaban ini diperlukan untuk antisipasi pelaksanaan vaksinasi lanjutan dan sekaligus juga sebagai bahan edukasi untuk masyarakat,” jelasnya.

Apakah vaksin Astrazeneca berbahaya

Maka, jika vaksin Sinovac yang disebut bahwa batas masa simpannya hanya sampai 25 Maret 2021 itu tidak lantas berarti larutan medis itu rusak dan tak terpakai per hari itu. Kedua pasien menderita trombosis vena serebral atau pembekuan darah di otak, termasuk satu kasus dengan trombositopenia atau kekurangan trombosit darah. Penambahan kasus ini membuat jumlah whole kasus penggumpalan darahusai vaksinasi COVID-19 menggunakan AstraZeneca menjadi 30 orang dan kematian menjadi sembilan, seperti dilansir dari Connexionfrance.com. Masyarakat tetap harus mendapatkan vaksinasi Covid-19 sesuai jadwal yang telah ditetapkan karena risiko kematian akibat Covid-19 jauh lebih tinggi dibandingkan kemungkinan terjadinya KIPI. “Hasil uji pertama tidak menggembirakan untuk kelompok usia 60 hingga sixty five tahun terkait AstraZeneca,” ujar Emmanuel Macron pada 2 Februari lalu, dikutip dari Reuters. Mereka juga mengidentifikasi tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin dengan pembekuan darah.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memberhentikan sementara penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 untuk pengujian sterilitas dan toksisitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan . Rahmat sekaligus meminta pemerintah daerah dengan dinas kesehatan melakukan pemantauan terkait AstraZeneca jenis serupa yang sudah terlanjur didistribusikan. Pihaknya pun mengimbau adanya informasi vaksin Astrazeneca berbahaya dan dihentikan tidak menyurutkan minat masyarakat untuk divaksin. “Kami imbau masyarakat melakukan vaksin. Untuk meningkatkan kekebalan dalam tubuh dari Covid-19,” pungkasnya.

Sementara Indonesia masih menunggu penelitian dari WHO mengenai efek samping dari vaksin tersebut. WHO dan EMA beserta otoritas kesehatan lainnya di beberapa negara mengatakan seluruh orang tetap harus divaksinasi. Selain itu, potensi bahaya yang ditimbulkan oleh covid-19 juga dapat ditekan dengan berlangsungnya imunisasi.

Dari beberapa jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, vaksin AstraZeneca dan Sinovac jadi dua jenis vaksin yang banyak dipakai karena ketersediaan dosisnya. Indonesia dilaporkan sudah mengamankan sekitar 6 juta dosis vaksin AstraZeneca dan 68 juta dosis vaksin Sinovac. Pada kasus yang tergolong jarang terjadi, orang yang disuntikkan vaksin AstraZeneca mengalami efek samping selain yang disebutkan di atas, termasuk muntah, diare, dan penggumpalan darah. EMA dan WHO pun menyebutkan bahwa manfaat dari vaksin AstraZeneca untuk mencegah COVID-19 masih lebih besar daripada risiko efek sampingnya. Jadi, meski tetap perlu waspada terhadap terjadinya efek samping atau KIPI, masyarakat diimbau untuk tidak menolak vaksin COVID-19, termasuk vaksin AstraZeneca. Belum diketahui secara pasti efek interaksi vaksin AstraZeneca bila digunakan bersama dengan obat, suplemen, atau produk natural tertentu.

Untuk mengantisipasi terjadinya KIPI yang serius, penerima vaksin AstraZeneca akan diminta untuk tetap tinggal di tempat layanan vaksinasi selama 30 menit sesudah divaksin. Vaksin AstraZeneca akan diberikan secara langsung oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Sebelum menjalani vaksinasi, petugas medis akan melakukan skrining untuk memastikan kondisi kesehatan Anda. Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk natural.