Vaksin Astrazeneca Dihentikan Karena Punya Efek Fatal? Simak Faktanya

Asosiasi dokter ini telah meninjau tujuh kasus pembekuan darah (Disseminated Intravascular Coagulation/DIC) dan 18 kasus gumpalan di pembuluh darah yang mengalirkan darah dari otak (Cerebral Venous Sinus Thrombosis/CVST). Hasilnya hubungan kasual dengan vaksin tidak terbukti tetapi diperlukan analisis lebih lanjut. Untuk mencegah kasus-kasus pembekuan darah, Erlina merekomendasikan orang-orang dengan masalah pengentalan darah, mengonsumsi pengencer darah, kelainan seperti trombosis atau penyumbatan, dan memeriksakan diri dulu sebelum divaksin. Kasus yang berat atau tidak umum usai divaksin AstraZeneca merujuk pada gejala seperti pusing, nyeri perut, pembesaran kelenjar getah bening di dekat lokasi tempat suntikan, keringat berlebihan.

Efek samping dari vaksin Astrazeneca

Vaksin AstraZeneca untuk COVID-19 telah menjalani uji klinis di Inggris, Brazil, dan Afrika Selatan. Vaksin ini memiliki nilai efikasi (efek perlindungan terhadap COVID-19) sebesar sixty three,09%. Vaksin AstraZeneca atau AZD1222 adalah vaksin untuk mencegah penyakit COVID-19.

Untuk mengantisipasi terjadinya KIPI yang serius, penerima vaksin AstraZeneca akan diminta untuk tetap tinggal di tempat layanan vaksinasi selama 30 menit sesudah divaksin. Terkait hal tersebut, di tengah masyarakat beredar anggapan bahwa efek samping vaksin AstraZeneca cenderung lebih keras dari vaksin Sinovac. Bermula dari cerita pengalaman orang-orang yang mengaku sudah menjalani vaksinasi COVID-19. Sebelum digunakan, vaksin COVID-19 AstraZeneca telah melalui serangkai pemeriksaan dan penelitian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dan Majelis Ulama Indonesia . Proses ini dilakukan untuk memastikan keamanan, khasiat, mutu, dan izin penggunaan dari MUI. Akibatnya, delapan negara di Eropa pun menangguhkan penggunaan vaksin tersebut.

EMA menyatakan, salah satu penjelasan efek samping ini ialah kondisi imunitas individual yang setara dengan penyandang sindrom langka heparin induced thrombocytopenia , yang menyebabkan kekurangan trombosit. “Laporan penggumpalan darah dan rendahnya trombosit darah sangat jarang dan secara umum manfaat untuk mencegah Covid-19 lebih tinggi daripada risiko efek samping,” demikian penjelasan EMA. Hindra menyebut KIPI AstraZeneca yang dialami masyarakat Indonesia masih tergolong ringan. Seperti gatal-gatal, kemerahan, nyeri di tempat suntik, yang kemudian akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan serius. “Semua laporan KIPI hendaknya diperhatikan dan dicermati dengan baik. Perlu dilihat kasus yang dilaporkan, karena AstraZeneca ini kan vaksin baru jadi masih terus memonitornya,” ujar Humas PB IDI Halik Malik saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (28/3).

Karena itu, masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut,” kata Hindra dalam keterangan tertulis, Senin (10/5). Ketua Komnas KIPI, Hindra Irawan Satari mengatakan, sejauh ini belum mendapatkan cukup bukti untuk mengaitkan kejadian tersebut dengan vaksin yang diterima. Komnas masih akan melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab utama kematian Trio. “Masyarakat tidak harus panik dan heboh dengan situasi laporan KIPI yang ada. Kalau vaksinasi bisa dilanjutkan lebih cepat maka itu lebih baik karena diharapkan herd immunity seera terbentuk,” ujarnya.

Dilansir dari situs informasi Pemerintah Inggris, gov.uk, sama seperti semua obat dan vaksin lain, vaksin Covid-19 AstraZeneca juga dapat memunculkan potensi efek samping. “Tidak semua batch dihentikan distribusi dan penggunaannya. Hanya batch CTMAV547 saja yang dihentikan, sambil menunggu hasil investigasi dan pengujian dari BPOM yang kemungkinan memerlukan waktu satu hingga dua minggu,” katanya. Merdeka.com – Kemenkes mengungkap efek samping dari vaksin Covid-19 merk AstraZeneca. Bagi para peserta vaksin yang merasa demam usai divaksinasi merupakan hal yang lumrah. Ilustrasi vaksin COVID-19 Namun dilansir dari Express, orang yang suntik vaksin Covid-19 juga harus segera mencari pertolongan medis bila 4 hari atau lebih setelah suntik vaksin Covid-19 mengalami sakit kepala parah atau persisten yang memburuk. Kondisi ini mungkin juga disertai penglihatan kabur dan tidak sembuh dengan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit.

Adapun, untuk kasus yang dialami oleh pria berusia 22 tahun di Jakarta hingga kini masih dalam proses penyelidikan. Pihaknya mengaku mengalami kesulitan saat menelusuri penyebab kematian tersebut karena tidak ada information medis yang tersedia pascakeluhan yang dilaporkan usai vaksinasi. tirto.id – Vaksin AstraZeneca ramai diperbincangan warganet di media sosial setelah seorang pemuda 22 tahun asal Buaran, Jakarta, meninggal dunia satu hari usai divaksinasi COVID-19 dengan vaksin AstraZeneca. “Penghentian sementara batch tersebut merupakan upaya kehati-hatian pemerintah untuk memastikan keamanan vaksin ini”.

Di unggahan yang dimuat akun Instagram resmi Komite Percepatan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional , @lawancovid19_id, rekomendasi yang dibuat BPOM tersebut menyatakan masyarakat harus tetap divaksinasi. Penelitian dan studi kasus di berbagai negara juga menunjukkan bahwa jumlah pasien CVST yang sembuh lebih banyak dibandingkan yang meninggal. Walau demikian, tingkat kecacatan dan gangguan neurologis yang menetap bahkan setelah pasien tersebut pulih dari CVST masih cukup tinggi.

Vaksin AstraZeneca ini juga menjadi salah vaksin yang akan digunakan pemerintah dalam program vaksinasi nasional. Selain Sinovac dan AstraZenaca, dalam program vaksinasi pemerintah juga akan menggunakan vaksin Pfizer, Novavax, dan satu yang akan didapatkan dari mekanisme Covax facility. Hong Kong sendiri telah mengamankan pasokan vaksin covid-19 untuk 7,5 juta warganya.

Efek samping diduga dipicu partikel lipid nano yang menjadi transporter unsur aktifnya, yang diuraikan oleh tubuh. Terkait dengan kasus kematian yang terjadi usai menerima vaksin AstraZeneca, Reisa menyebut masyarakat tak perlu terlalu khawatir karena persentasenya sangat kecil dibandingkan dengan keseluruhan penerima vaksin tersebut. Menurutnya, manfaat dari vaksin tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan efek sampingnya. Sebagai tindak lanjut dari ketiga kasus tersebut, penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547 telah dihentikan untuk sementara.