Benarkah Ada Tripsin Babi Dalam Pembuatan Vaksin Corona?

Ketentuan inilah yang dipedomani oleh MUI Pusat bahwa produk apapun yang mengandung unsur babi (intifa’ul khinzir) hukumnya haram dan tidak perlu diproses lebih lanjut, baik dengan cara istihalah ataupun istihlak . Komisi Fatwa MUI menyatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca haram karena mengandung unsur babi. Dalam kandungannya ,vaksin yang diproduksi oleh perusahaan Inggris dan Swedia itu mengandung tripsin yang berasal dari babi. “Padahal semua produk yang menggunakan vaksin, termasuk Sinovac, juga pakai tripsin, enzim yang dicurigai dari babi. Tidak apa-apa mau dari babi, musang, itu awal sekali, bukan pembuatan vaksinnya.

Selanjutnya, kuman akan dikembangbiakan dan bagian polisakaridanya diambil sebagai antigen yang digunakan untuk membentuk vaksin. “Vaksin ini telah disetujui di lebih dari 70 negara termasuk Arab Saudi,UEA, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair, dan Maroko dan banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah menyatakan sikap bahwa vaksin diperbolehkan untuk para muslim,” pungkasnya. “Ahli fiqih mengatakan sudah ada delusi. Jadi nanti dari produk vaksin finalnya, tidak ada lagi barang-barang yang perlu dikhawatirkan,” papar Ahmad. Dijelaskan Ahmad, Sinovac memproduksi vaksin dengan cara menumbuhkan virus di sel Vero.

Satu-satunya kendala, vaksin harus didinginkan hingga minus 70°C sebelum dipakai. “Dan tidak mungkin BPOM akan memberikan izin digunakan untuk vaksinasi, tanpa diuji keamanannya,” tutupnya. Dipaparkan Ahmad, platform vaksin Covid-19 yang dikembangkan Sinovac sebenarnya menggunakan teknologi yang sudah lama dan mapan, yakni menggunakan partikel virus. KOMPAS.com – Di beberapa grup whatsApp dan internet beredar berita yang cukup heboh perihal kandungan vaksin Covid-19 Sinovac yang tercantum dalam kemasan.

Apabila kondisi kesehatan peserta dinyatakan memenuhi persyaratan, maka peserta akan dilakukan vaksinasi. Anda mungkin memiliki beberapa kondisi kesehatan yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut sebelum menerima vaksinasi. Peserta yang bisa melakukan program vaksin adalah peserta yang sudah mendaftarkan dirinya terlebih dahulu di dalam aplikasi Good Doctor melalui proses di atas dan telah mendapatkan konfirmasi dari tim Good Doctor. Bila terdapat perubahan terkait waktu dan lokasi pelaksanaan, tim Good Doctor akan menginfokan perubahan tersebut kepada calon peserta vaksinasi selambat-lambatnya 24 jam sebelum waktu pelaksanaannya dari e-mail

SURABAYA – Indonesia sempat diramaikan dengan polemik vaksin Covid-19 produksi Astrazeneca, yang konon dalam proses pembiakannya bersinggungan secara tidak langsung menggunakan tripsin yang berasal dari babi. Lanjut Gus Yaqut, keempat menggunakan fasilitas produksi yang suci dan hanya digunakan untuk produk vaksin Covid-19. Dilansir dari Bisnis.com, PT Bio Farma telah mendapatkan surat pernyataan dari Sinovac Biotech Ltd. bahwa vaksin yang diproduksi tidak mengandung gelatin babi.

Vaksin Sinovac babi

Artinya, vaksin ini boleh digunakan oleh seluruh umat Islam dan umat agama lainnya. Keempat, bahan produksi vaksin Covid-19 dari Sinovac adalah Natrium Klorida. Bahan ini berfungsi sebagai isotonis untuk memberikan kenyamanan saat penyuntikan. Terutama untuk Umat Islam, Gus Yaqut, sampaikan bahwa sudah ada fatwa halal dan suci dari Majelis Ulama Indonesia. Dasar menetapkan kehalalan vaksin Sinovac Pertama, pendapat para ulama, antara lain pendapat Imam al-Zuhri dalam Syarah Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal yang menegaskan ketidakbolehan berobat dengan barang najis. Kemudian, pendapat Imam al-Nawani dalam Raudlatu at-Thalibin wa Umdatu al-Muftiin yang menjelaskan bahwa sesuatu yang tidak diyakini kenajisan dan atau kesuciannya, maka ditetapkan hukum sesuai hukum asalnya.

Menurutnya, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity. “Semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” tulis mereka. “Bahannya mengandung bahan haram atau dibuat dengan cara yang haram, dalam proses pembuatan vaksin itu melanggar hukum syariah.

Terhadap program vaksinasi ini, masyarakat terbelah kepada tiga kelompok. Pertama, Kelompok yang menerima dan siap divaksin tanpa reserve/tanpa syarat. Kedua, Kelompok yang belum memutuskan , kelompok ini ingin mencermati terlebih dahulu kegiatan vaksinasi apakan aman dan berkhasiat serta halal untuk digunakan. Kelompok ini adalah mereka yang tidak mau divaksinasi apa pun alasannya, meski sudah aman dan halal sekalipun.

Vaksin covid-19, misalnya, yang belum diketahui haramnya, semestinya otomatis halal karena kita berada dalam situasi darurat pandemi covid-19. JAKARTA, AYOBANDUNG.COM — Meski telah dipastikan halal oleh Badan Pengawas Obat Makanan dan boleh digunakan umat muslim berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia , perdebatan mengenai halal-haram vaksin Sinovac masih menjadi perbincangan di masyarakat. Pertimbangan hukum kedua soal kebolehan istihalah dengan mengutip pendapat Hanafiah dan Malikiyah.