Astrazeneca Tegaskan Vaksinnya Tidak Mengandung Babi Atau Hewani

Kedua, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau risiko deadly jika tidak dilakukan vaksinasi Covid-19. Seperti diketahui, belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan meninggalnya tiga orang setelah mengikuti vaksinasi astrazeneca dan menimbulkan kecemasan. Terlebih, salah seorang yang meninggal berusia muda dan memiliki riwayat kesehatan yang baik. JAKARTA, klikaktual.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan diminta untuk memberikan kompensasi yang jelas terhadap sejumlah masyarakat yang meninggal setelah penggunaan vaksin. Dia melanjutkan, beberapa negara Eropa yang semula menangguhkan vaksinasi Astrazeneca, telah memutuskan untuk melanjutkan kembali program vaksinasi dengan vaksin tersebut, setelah mendapatkan penjelasan EMA.

“Dari hasil kajian ditemukan vaksin AstraZeneca menggunakan bahan asal babi dalam dua tahap. Bahan ini digunakan untuk memisahkan sel inang dari microcarrier-nya,” kata Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Muti Arintawati dalam rilis yang diterima Republika.co,id, Ahad (21/3). Liputan6.com, Jakarta – Ahli virologi Anita Artarini mengungkapkan bahwa produk jadi vaksin AstraZeneca tidak mengandung babi. Anita mengatakan proses produksi vaksin AstraZenecatidak menggunakan bahan yang merupakan turunan babi.

“Pemerintah juga tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia. Menurutnya kondisi darurat ini diperkuat dengan pernyataan beberapa ahli yang dihadirkan dalam sidang fatwa MUI yang menyebutkan bahwa risikonya deadly jika vaksinasi ini tidak berjalan. MUI menyatakan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca haram digunakan karena mengandung babi.

Vaksin Astrazeneca babi

Atoillah Isfandi, M.Kes, menegaskan kembali, bahwa tripsin babi yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin Astra Zeneca, itu dilakukan pada proses awal penanaman untuk menumbuhkan virus pada sel inang. Pernyataan MUI mengenai vaksin AstraZeneca mengandung babi hasil kajian bekerja sama dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika MUI . Hasil riset menemukan unsur babi dalam proses pembuatan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Ketiga, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna ikhtiar mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Hasil uji klinis fase III yang dilakukan di Uni Emirat Arab menunjukkan efikasi Vaksin Sinopharm mencapai 78 persen dengan efek samping ringan dan aman. Pemerintah pun memutuskan untuk melanjutkan vaksinasi Covid-19 dengan menggunakan vaksin AstraZeneca di beberapa wilayah Indonesia. Pemerintah meyakini manfaat dari vaksin AstraZeneca ini lebih besar daripada resiko yang ditimbulkan.

dengan cara yang haram, dalam proses pembuatan vaksin itu melanggar hukum syariah, dan tidak jelas manfaat suatu vaksin apalagi jika mudharatnya jauh lebih besar. Jadi hukum haram tidak hanya dipandang dari kandungan bendanya, tetapi juga pada proses maupun manfaatnya,” terang Dr. Atoilah. AstraZeneca menegaskan bahwa Vaksinnya tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya.